Indonesia memiliki modal dasar yang luar biasa besar, mulai dari kekayaan sumber daya alam, luas geografis, hingga bonus demografi. Namun, seringkali potensi ini tidak berbanding lurus dengan peran Indonesia di panggung internasional. Makalah ini membahas visi untuk mengubah posisi Indonesia dari sekadar “penonton” atau “pengikut” menjadi pemain utama dalam geopolitik dunia.
Memahami peluang historis Indonesia di tengah transisi kekuasaan dunia.
Mengidentifikasi pilar-pilar utama yang diperlukan untuk menjadi negara superpower.
Memahami konsep “Nasionalisme Baru” sebagai bahan bakar kemajuan bangsa.
Anis Matta menekankan bahwa sejarah dunia selalu bergerak dalam siklus pergiliran kekuasaan. Saat ini, kekuatan-kekuatan lama (Barat dan Timur) sedang mengalami kelelahan akibat konflik internal dan eksternal yang panjang.
Celah Global: Di tengah keretakan hubungan antar negara adidaya, muncul peluang bagi kekuatan baru untuk mengisi kekosongan peran tersebut.
Hukum Pergiliran: Indonesia berada pada titik sejarah di mana ia bisa melakukan lompatan jika mampu membaca momentum transisi global ini dengan tepat.
Untuk menjadi pemain global, Indonesia tidak cukup hanya memiliki kekayaan alam, tetapi harus membangun struktur kekuatan yang solid:
Kekuatan Intelektual (Sains dan Teknologi): Tidak ada negara yang menjadi adidaya tanpa menguasai teknologi. Indonesia harus melakukan revolusi pendidikan untuk mengejar ketertinggalan riset dan inovasi.
Kekuatan Ekonomi dan Kesejahteraan: Membangun kemandirian ekonomi yang kuat sehingga Indonesia tidak mudah didikte oleh kepentingan modal asing.
Kekuatan Pertahanan (Hard Power): Militer yang kuat adalah instrumen kedaulatan. Indonesia perlu meningkatkan postur pertahanannya agar memiliki efek getar (deterrent effect) di kawasan.
Anis Matta menawarkan konsep Nasionalisme Baru sebagai ruh untuk mencapai visi “Superpower Baru”:
Keluar dari Mindset Inferior: Bangsa Indonesia harus berhenti merasa kecil dan mulai berani bermimpi besar. Nasionalisme bukan lagi sekadar mempertahankan wilayah, tapi memenangkan persaingan global.
Integrasi Nilai: Menyatukan semangat keagamaan (Islam), sistem politik yang matang (Demokrasi), dan capaian materi (Kesejahteraan) sebagai satu paket identitas nasional.
Pemimpin masa depan harus memiliki kapasitas untuk membaca peta geopolitik dan berani mengambil tanggung jawab sejarah. Tugas pemimpin adalah mengubah kecemasan masyarakat menjadi optimisme melalui narasi yang jelas dan terukur.
Indonesia harus aktif melakukan diplomasi yang tidak hanya berbasis pada bantuan kemanusiaan, tetapi juga diplomasi ekonomi dan politik yang menegaskan posisi Indonesia sebagai jembatan perdamaian dunia.
Menjadi pemain global bukanlah sebuah pilihan opsional, melainkan sebuah keharusan bagi Indonesia untuk bertahan di era modern. Dengan memanfaatkan keretakan geopolitik dunia, melakukan revolusi pendidikan, dan memperkuat postur pertahanan, Indonesia memiliki peluang nyata untuk menjadi kekuatan baru yang memberikan rahmat bagi semesta (Rahmatan lil ‘Alamin). Tantangan terbesarnya terletak pada kemauan bangsa ini untuk bangkit dan terbang setinggi potensinya.
Manusia telah melewati tahap di mana kekuatan fisik (otot) digantikan oleh robot. Kini, AI mulai menggantikan peran akal manusia. Contoh nyata terjadi pada profesi medis; AI mampu merekam jutaan data kasus yang jauh melampaui kapasitas memori manusia, sehingga diagnosis AI berpotensi dianggap lebih akurat daripada dokter manusia Hal ini memicu kekhawatiran akan hilangnya berbagai profesi intelektual.
Di dunia Barat, diskusi serius mulai mengarah pada anggapan AI sebagai agama baru yang mampu menciptakan “kitab suci” sendiri . Hal ini menunjukkan bahwa teknologi telah menyentuh dimensi filosofis dan keyakinan manusia. Fahri Hamzah berargumen bahwa perlu adanya dialog antara teknokrat, saintis, dan kaum agamawan untuk menjaga batasan nilai kemanusiaan
Mengelola negara adalah tanggung jawab besar yang menentukan arah kehidupan suatu bangsa, karena dari cara negara dijalankan akan lahir keadilan, kesejahteraan, dan kemajuan, atau sebaliknya ketimpangan, konflik, dan krisis. Oleh karena itu, pengelolaan negara tidak boleh dipahami sekadar sebagai urusan kekuasaan, melainkan sebagai amanah untuk melayani rakyat, menegakkan hukum, serta menjaga masa depan bersama.
Dalan pembelajaran ini anda akan mendapatkan tentang bagaimana mengelola sebuah negara.
Pelajaran pertama
Negara harus punya visi jangka panjang yang jelas dan konsisten lintas rezim.
Kunci utamanya:
Tujuan nasional (sesuai Pembukaan UUD 1945)
Peta jalan pembangunan (RPJP, RPJM)
Ideologi negara sebagai kompas (Pancasila)
👉 Tanpa visi, negara hanya sibuk mengurus rutinitas, bukan masa depan.
Negara perlu pemerintahan yang efektif, namun tidak sewenang-wenang.
Prinsip utama:
Pembagian kekuasaan (eksekutif, legislatif, yudikatif)
Supremasi hukum
Akuntabilitas dan transparansi
👉 Kuat untuk mengambil keputusan, tapi dibatasi hukum agar tidak tiran.