Topik Utama: Menemukan Titik Temu Antara Iman (Agama) dan Akal (Sains).
Tujuan Pembelajaran: Memahami bahwa agama dan sains bukanlah dua kutub yang bertentangan, melainkan dua instrumen yang harus terintegrasi untuk membangun peradaban manusia yang utuh.
Dalam pengajaran ini, Anis Matta menekankan bahwa Tuhan berbicara kepada manusia melalui dua “buku”:
Ayat Qauliyah (Teks): Wahyu yang tertuang dalam kitab suci yang memberikan panduan nilai dan moral.
Ayat Kauniyah (Semesta): Hukum-hukum alam yang tersebar di alam semesta yang menjadi objek kajian sains.
Poin Utama: Kebenaran dari wahyu tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran alam semesta karena keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Sang Pencipta.
Untuk memudahkan pemahaman, materi ini membagi peran keduanya sebagai berikut:
Agama sebagai “Jiwa” (The Why): Agama menjawab pertanyaan tentang makna hidup, tujuan keberadaan manusia, dan memberikan batasan etika agar manusia tidak merusak diri sendiri atau lingkungannya.
Sains sebagai “Alat” (The How): Sains menyediakan metodologi, teknologi, dan cara-cara teknis untuk mengelola sumber daya alam serta mempermudah kehidupan manusia di dunia.
Materi ini memberikan peringatan tentang risiko jika salah satu dimensi dihilangkan:
Sains Tanpa Agama: Akan melahirkan “peradaban robot” atau monster. Teknologi tanpa kompas moral dapat berujung pada kehancuran (seperti senjata nuklir atau eksploitasi alam tanpa batas) karena sains tidak mengenal konsep “dosa” atau “pahala,” hanya mengenal “efisiensi.”
Agama Tanpa Sains: Akan melahirkan stagnasi dan ketidakberdayaan. Umat yang hanya berfokus pada teks tanpa memahami hukum alam akan kesulitan mengelola dunia dan cenderung tertinggal dalam peradaban.
Anis Matta menjelaskan bahwa perintah pertama dalam Islam, yaitu “Iqra” (Bacalah), bukan hanya perintah untuk membaca teks agama, tetapi juga perintah untuk melakukan observasi, riset, dan eksplorasi terhadap rahasia alam semesta. Inilah rahasia mengapa pada masa keemasan Islam, para ulama besar biasanya juga merupakan pakar sains (seperti Ibnu Sina atau Al-Khawarizmi).
Seorang manusia seutuhnya adalah mereka yang mampu beriman dengan hati (Agama) dan berpikir dengan akal (Sains). Peradaban yang kuat adalah peradaban yang mampu menyatukan kecanggihan teknologi dengan keluhuran budi pekerti.
Manusia telah melewati tahap di mana kekuatan fisik (otot) digantikan oleh robot. Kini, AI mulai menggantikan peran akal manusia. Contoh nyata terjadi pada profesi medis; AI mampu merekam jutaan data kasus yang jauh melampaui kapasitas memori manusia, sehingga diagnosis AI berpotensi dianggap lebih akurat daripada dokter manusia Hal ini memicu kekhawatiran akan hilangnya berbagai profesi intelektual.
Di dunia Barat, diskusi serius mulai mengarah pada anggapan AI sebagai agama baru yang mampu menciptakan “kitab suci” sendiri . Hal ini menunjukkan bahwa teknologi telah menyentuh dimensi filosofis dan keyakinan manusia. Fahri Hamzah berargumen bahwa perlu adanya dialog antara teknokrat, saintis, dan kaum agamawan untuk menjaga batasan nilai kemanusiaan
— 28 February 2017