Anis Matta menjelaskan bahwa target 2045 dipilih karena bertepatan dengan satu abad kemerdekaan Indonesia. Namun, ia menekankan pentingnya memahami teori siklus sejarah:
Dalam perspektif sejarah dan agama, angka 100 tahun sering dianggap sebagai satu putaran besar atau siklus pembaharuan (tajdid)
Capaian “Indonesia Emas” sangat bergantung pada besarnya target yang ditetapkan dan energi yang dimiliki bangsa. Ia membayangkan tahun 2045 sebagai momentum Indonesia menjadi kekuatan dunia (superpower) baru
Menanggapi pertanyaan tentang latar belakang pendidikannya di bidang Syariah (alumni LIPIA), Anis Matta menegaskan bahwa agama dan politik tidak bisa dipisahkan :
Agama adalah sistem kehidupan yang membutuhkan instrumen negara untuk aplikasi dalam skala besar, seperti dalam mewujudkan keadilan sosial dan redistribusi kekayaan
Ia menceritakan nasehat pribadi dari Dr. Yusuf al-Qaradawi pada tahun 1998, yang menyarankannya untuk mempelajari ilmu-ilmu strategi, pertahanan, politik, dan ekonomi sebagai pelengkap ilmu Syariah demi membantu kebangkitan umat
Anis Matta mengkritik sistem pendidikan saat ini yang dinilai kurang relevan dengan tantangan lapangan dan mulai kehilangan urgensi dinding kelas akibat akses internet yang terbuka luas . Partai Gelora mengusung misi Revolusi Pendidikan dengan poin utama:
Akses Gratis hingga S1: Untuk menjadi negara maju, akses pendidikan tinggi harus dibuka seluas-luasnya dan gratis minimal hingga jenjang sarjana (S1)
Kesejahteraan dan Kualitas Guru: Meningkatkan gaji guru secara signifikan dan memberikan pelatihan berkelanjutan agar mereka memiliki kualitas pendidik yang mumpuni [].
Acara ini dibuat sebagai sarana komunikasi langsung untuk menjawab keresahan masyarakat yang disampaikan melalui media sosial. Anis ingin mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu (Syariah, politik modern, geopolitik) untuk memberikan solusi atas kompleksitas masalah yang dihadapi Indonesia saat ini
Manusia telah melewati tahap di mana kekuatan fisik (otot) digantikan oleh robot. Kini, AI mulai menggantikan peran akal manusia. Contoh nyata terjadi pada profesi medis; AI mampu merekam jutaan data kasus yang jauh melampaui kapasitas memori manusia, sehingga diagnosis AI berpotensi dianggap lebih akurat daripada dokter manusia Hal ini memicu kekhawatiran akan hilangnya berbagai profesi intelektual.
Di dunia Barat, diskusi serius mulai mengarah pada anggapan AI sebagai agama baru yang mampu menciptakan “kitab suci” sendiri . Hal ini menunjukkan bahwa teknologi telah menyentuh dimensi filosofis dan keyakinan manusia. Fahri Hamzah berargumen bahwa perlu adanya dialog antara teknokrat, saintis, dan kaum agamawan untuk menjaga batasan nilai kemanusiaan
— 28 February 2017