Video berjudul “Bisakah Indonesia Menjadi Superpower Baru? ~ Anis Matta Menjawab Episode #8” membahas visi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan baru dunia. Berikut adalah poin-poin penting dari video tersebut:
Anis Matta menjelaskan bahwa dalam perspektifnya, menjadi superpower bukan berarti menjadi ancaman bagi negara lain. Dengan menggunakan bahasa agama, ia menyebutnya sebagai menjadi rahmat bagi dunia (rahmatan lil ‘alamin). Indonesia harus kuat agar mampu mendistribusikan kebaikan dan solusi di tengah ancaman perang dan perubahan iklim global [].
Untuk menjawab apakah Indonesia bisa menjadi superpower, ada empat perspektif yang harus dijawab:
Peluang (Opportunity)
Kemauan (Will)
Jarak (Gap)
Waktu (Time) Dalam video ini, fokus utama adalah pada Peluang dan Kemauan [].
Anis Matta menggunakan sejarah untuk menunjukkan bahwa kekuasaan dunia selalu bergilir:
Perang Salib & Renaissance: Kekalahan Eropa di Perang Salib justru memicu kebangkitan ilmu pengetahuan (Renaissance) yang akhirnya membuat mereka memimpin dunia melalui revolusi maritim [].
Pemenang yang Lelah: Setelah Perang Dunia II, negara-negara besar seperti Inggris dan Prancis mengalami penurunan (decline) meskipun mereka adalah pemenang perang. Mereka keluar sebagai “pemenang yang lelah” [].
Celah Geopolitik: Konflik antara kekuatan besar saat ini (seperti AS, China, dan Rusia) akan menciptakan keletihan pada kekuatan-kekuatan tersebut. Di tengah keretakan dan kekacauan inilah terdapat peluang bagi kekuatan baru seperti Indonesia untuk muncul [].
Meskipun peluang ada, tantangan terbesarnya adalah kemauan atau mindset bangsa Indonesia sendiri:
Rendahnya Obsesi: Anis Matta mengamati bahwa secara psikologis, bangsa Indonesia saat ini memiliki keinginan yang rendah untuk bermimpi besar atau meraih prestasi luar biasa [].
Potensi vs Pencapaian: Indonesia memiliki modal besar dari sisi geografi, demografi, dan sumber daya alam (“langit kita terlalu tinggi”), namun pencapaiannya masih rendah karena semangat untuk berprestasi (need for achievement) yang lemah [].
Politik Gimmick: Ia mengkritik budaya politik yang lebih menyukai hal-hal kecil atau sekadar gimmick daripada menawarkan visi besar yang fundamental [].
Melalui Partai Gelora, Anis Matta ingin membangkitkan energi dan semangat bangsa Indonesia agar berani memiliki mimpi besar dan tidak hanya menjadi penonton dalam transisi sejarah dunia yang panjang ini [].
Kesimpulan: Secara peluang sejarah, celah untuk Indonesia menjadi kekuatan dunia sangat terbuka karena adanya krisis global. Namun, hal itu hanya bisa terwujud jika bangsa Indonesia mampu mengubah mindset-nya dari sekadar bertahan hidup menjadi bangsa yang ingin memimpin dunia.
Manusia telah melewati tahap di mana kekuatan fisik (otot) digantikan oleh robot. Kini, AI mulai menggantikan peran akal manusia. Contoh nyata terjadi pada profesi medis; AI mampu merekam jutaan data kasus yang jauh melampaui kapasitas memori manusia, sehingga diagnosis AI berpotensi dianggap lebih akurat daripada dokter manusia Hal ini memicu kekhawatiran akan hilangnya berbagai profesi intelektual.
Di dunia Barat, diskusi serius mulai mengarah pada anggapan AI sebagai agama baru yang mampu menciptakan “kitab suci” sendiri . Hal ini menunjukkan bahwa teknologi telah menyentuh dimensi filosofis dan keyakinan manusia. Fahri Hamzah berargumen bahwa perlu adanya dialog antara teknokrat, saintis, dan kaum agamawan untuk menjaga batasan nilai kemanusiaan
— 28 February 2017