Video source is missing or invalid.
Posisi Saat Ini: Indonesia berada di peringkat ke-16 dunia (per 2021)
Visi Global: Untuk menjadi pemain global, Indonesia harus meningkatkan kekuatan pertahanan dari peringkat 16 ke minimal 5 besar dunia
Komparasi Global: Lima kekuatan militer utama saat ini adalah AS, Rusia, China, India, dan Prancis. Sebagai gambaran, anggaran militer Prancis mencapai Rp500-600 triliun per tahun
Anggaran Renstra 25 Tahun: Rencana anggaran sebesar Rp1.760 triliun untuk periode hingga 2044 sebenarnya masih relatif kecil (hanya sekitar 1,5% dari PDB) dibandingkan negara-negara besar lainnya
Transisi MEF (Minimum Essential Force): * Renstra MEF tahap 3 (2020-2024) baru mencapai sekitar 75% target
Pentingnya prinsip good governance dan kesinambungan antar Renstra agar tidak terjadi “ruang abu-abu” atau penyalahgunaan anggaran
Tantangan Vendor-Driven: Pengadaan alutsista seringkali lebih didorong oleh kepentingan vendor daripada kebutuhan strategis riil di lapangan
Penguatan Konsep Negara Maritim:
Porsi anggaran untuk Angkatan Laut dalam MEF sebelumnya hanya sekitar 40%, yang dinilai belum cukup mendukung visi Indonesia sebagai poros maritim dunia
Kebutuhan kapal selam canggih (bukan alutsista berusia 30 tahun) untuk menjaga titik-titik Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI)
Konsentrasi di flash point kritis, seperti Laut China Selatan yang berbatasan langsung dengan wilayah Indonesia
Pertahanan di Era Digital (Cyber Warfare):
Pergeseran ke peperangan asimetris di mana warga sipil menjadi korban melalui pencurian data kependudukan (misal: kebocoran data 260 juta penduduk)
Serangan terhadap pemikiran dan jiwa masyarakat melalui dunia siber
Kemandirian Teknologi: Kritik terhadap penggunaan satelit negara lain untuk komunikasi militer. Militer Indonesia harus memiliki satelit yang dikontrol penuh oleh negara
Efek Getar (Deterrent Effect): Pembangunan postur pertahanan harus memberikan efek getar yang kuat bagi lingkungan geopolitik kawasan yang semakin tajam
Mendukung peningkatan belanja alutsista namun harus didasarkan pada asumsi perencanaan yang tepat, bukan asal-asalan
Menghindari beban utang panjang bagi rakyat tanpa adanya pembangunan postur pertahanan yang nyata dan kuat
Manusia telah melewati tahap di mana kekuatan fisik (otot) digantikan oleh robot. Kini, AI mulai menggantikan peran akal manusia. Contoh nyata terjadi pada profesi medis; AI mampu merekam jutaan data kasus yang jauh melampaui kapasitas memori manusia, sehingga diagnosis AI berpotensi dianggap lebih akurat daripada dokter manusia Hal ini memicu kekhawatiran akan hilangnya berbagai profesi intelektual.
Di dunia Barat, diskusi serius mulai mengarah pada anggapan AI sebagai agama baru yang mampu menciptakan “kitab suci” sendiri . Hal ini menunjukkan bahwa teknologi telah menyentuh dimensi filosofis dan keyakinan manusia. Fahri Hamzah berargumen bahwa perlu adanya dialog antara teknokrat, saintis, dan kaum agamawan untuk menjaga batasan nilai kemanusiaan
— 28 February 2017