Anis Matta menjelaskan bahwa agama memiliki wibawa spiritual yang tidak dimiliki oleh negara. Negara mampu mengatur ruang publik melalui hukum dan kontrol eksternal (seperti aturan lalu lintas), namun agama bekerja di ruang individu yang paling dalam. Agama memastikan seseorang tetap jujur kepada dirinya sendiri dan kepada Tuhan, bahkan saat tidak ada manusia lain yang mengawasi [].
Ia memberikan ilustrasi tentang seorang tentara di medan perang. Ketika menghadapi kematian, tentara tersebut tidak akan memikirkan negara, karena negara tidak hadir di alam setelah kematian. Yang ia pikirkan adalah apakah ia berperang di jalan yang benar atau melakukan kezaliman. Agama memberikan kompas moral yang membuat seseorang bertanggung jawab langsung kepada Allah [].
Puasa dianggap sebagai ibadah yang unik karena sifatnya yang sangat privat. Seseorang bisa saja makan atau minum secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui orang lain, namun jutaan umat Islam tetap melakukannya karena kesadaran bahwa mereka diawasi oleh Allah [].
Melalui lapar dan dahaga, manusia merasakan kelemahan fisiknya. Rasa lemah ini justru mendekatkan manusia kepada sumber kekuatan yang lebih besar, yaitu Allah. Ketergantungan total (tawakal) inilah yang menjadi sumber energi baru bagi jiwa
Anis Matta merefleksikan peristiwa puasa pertama dan Lebaran pertama pada zaman Rasulullah yang bertepatan dengan kemenangan dalam Perang Badar. Ia menyebutnya sebagai kemenangan komprehensif—menang melawan hawa nafsu diri sendiri sekaligus menang di medan pertempuran fisik
Kesimpulan: Agama memberikan fondasi moral dan kejujuran yang membuat seseorang menjadi warga negara yang lebih baik bukan karena takut pada hukum, melainkan karena kesadaran spiritual
Manusia telah melewati tahap di mana kekuatan fisik (otot) digantikan oleh robot. Kini, AI mulai menggantikan peran akal manusia. Contoh nyata terjadi pada profesi medis; AI mampu merekam jutaan data kasus yang jauh melampaui kapasitas memori manusia, sehingga diagnosis AI berpotensi dianggap lebih akurat daripada dokter manusia Hal ini memicu kekhawatiran akan hilangnya berbagai profesi intelektual.
Di dunia Barat, diskusi serius mulai mengarah pada anggapan AI sebagai agama baru yang mampu menciptakan “kitab suci” sendiri . Hal ini menunjukkan bahwa teknologi telah menyentuh dimensi filosofis dan keyakinan manusia. Fahri Hamzah berargumen bahwa perlu adanya dialog antara teknokrat, saintis, dan kaum agamawan untuk menjaga batasan nilai kemanusiaan
— 28 February 2017