Oleh: Ringkasan Materi Fahri Hamzah
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah mencapai titik di mana ia tidak hanya menggantikan kemampuan fisik manusia (robotisasi), tetapi juga mulai menggantikan kemampuan kognitif/akal. Fenomena ini memicu perdebatan serius mengenai masa depan kemanusiaan, bahkan dianggap sebagai cikal bakal “agama baru” di dunia Barat. Makalah ini membahas posisi strategis Indonesia dalam menghadapi disrupsi AI melalui perspektif integrasi antara agama dan sains, serta peran negara dalam melakukan literasi bangsa untuk menghadapi tantangan masa depan.
1.1 Latar Belakang Sejarah peradaban manusia mencatat transisi panjang mulai dari penggunaan alat bantu fisik hingga otomatisasi robotik. Saat ini, dunia memasuki fase disrupsi berikutnya: Artificial Intelligence (AI). Fahri Hamzah menekankan bahwa AI bukan sekadar alat, melainkan tantangan eksistensial karena kemampuannya menyerupai akal manusia
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana dampak disrupsi AI terhadap profesi dan eksistensi manusia?
Bagaimana relasi antara agama dan sains dalam memandang fenomena AI?
Apa peran strategis negara dan politisi dalam menghadapi perkembangan ini?
2.1 Tahapan Disrupsi: Dari Otot ke Akal Manusia telah melewati tahap di mana kekuatan fisik (otot) digantikan oleh robot. Kini, AI mulai menggantikan peran akal manusia. Contoh nyata terjadi pada profesi medis; AI mampu merekam jutaan data kasus yang jauh melampaui kapasitas memori manusia, sehingga diagnosis AI berpotensi dianggap lebih akurat daripada dokter manusia Hal ini memicu kekhawatiran akan hilangnya berbagai profesi intelektual.
2.2 AI sebagai “Agama Baru” Di dunia Barat, diskusi serius mulai mengarah pada anggapan AI sebagai agama baru yang mampu menciptakan “kitab suci” sendiri . Hal ini menunjukkan bahwa teknologi telah menyentuh dimensi filosofis dan keyakinan manusia. Fahri Hamzah berargumen bahwa perlu adanya dialog antara teknokrat, saintis, dan kaum agamawan untuk menjaga batasan nilai kemanusiaan
2.3 Paradigma Agama dan Sains
Agama: Memberikan prinsip yang tetap (fixed principle) dan pandangan terhadap nilai masa lalu sebagai landasan moral.
Sains: Bersifat dinamis dan berorientasi pada masa depan. Kekacauan terjadi ketika sains mencoba mengubah “fitrah” manusia (seperti perdebatan gender vs jenis kelamin). Fahri Hamzah menegaskan bahwa AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan untuk mengubah hakikat kemanusiaan (nature of humans)
2.4 AI sebagai Solusi Kerusakan Lingkungan Alih-alih menciptakan kerusakan baru, AI seharusnya diarahkan untuk memperbaiki kerusakan yang telah dibuat manusia di masa lalu, seperti pengelolaan sampah, restorasi sungai, dan pemulihan lingkungan yang tidak mampu diselesaikan secara manual oleh negara
3.1 Peran Politisi dan Akademisi Politisi memiliki tanggung jawab untuk menjawab kegelisahan publik mengenai masa depan melalui proposal kebijakan yang komprehensif Penting bagi negara untuk menjamin kebebasan akademik agar para peneliti berani mengajukan proposal dan mengintervensi edukasi publik secara berkualitas
3.2 Indonesia sebagai Subjek, Bukan Konsumen Bangsa Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi. Melalui ideologi Pancasila (Sila pertama sebagai dasar agama dan sila berikutnya mencakup sains dan kemanusiaan), Indonesia harus melakukan “daur ulang literasi” dan revolusi pendidikan untuk menghadapi dunia teknologi terbaru
Disrupsi AI adalah keniscayaan sejarah. Kunci utama dalam menghadapinya bukan dengan mempertentangkan agama dan sains, melainkan mengintegrasikan keduanya dalam komando negara yang visioner. AI harus digunakan untuk meningkatkan martabat manusia dan memperbaiki kerusakan ekosistem, tanpa mengubah hakikat penciptaan manusia itu sendiri.
Manusia telah melewati tahap di mana kekuatan fisik (otot) digantikan oleh robot. Kini, AI mulai menggantikan peran akal manusia. Contoh nyata terjadi pada profesi medis; AI mampu merekam jutaan data kasus yang jauh melampaui kapasitas memori manusia, sehingga diagnosis AI berpotensi dianggap lebih akurat daripada dokter manusia Hal ini memicu kekhawatiran akan hilangnya berbagai profesi intelektual.
Di dunia Barat, diskusi serius mulai mengarah pada anggapan AI sebagai agama baru yang mampu menciptakan “kitab suci” sendiri . Hal ini menunjukkan bahwa teknologi telah menyentuh dimensi filosofis dan keyakinan manusia. Fahri Hamzah berargumen bahwa perlu adanya dialog antara teknokrat, saintis, dan kaum agamawan untuk menjaga batasan nilai kemanusiaan
— 28 February 2017